Rabu, 14 September 2011

BIOGRAFI SANTO CAROLUS

Riwayat Hidup St. Carolus 
Bermula dari peperangan di Eropa Barat tahun 1538, saat itu diadakan gencatan senjata yang membuat serdadu – serdadu menjadi resah dan mulai mengganggu kehidupan masyarakat di sekitar Milano. Melihat hal ini Adipati Gilberto Borromeo memindahkan istananya ke puri Arona di tepi danau Lago Maggiore. Tak lama kemudian, dini hari tanggal 2 Oktober 1538 lahirlah bayi laki-laki bernama Carolus dari pasangan Gilberto Borromeo dengan Margherita de’ Medici. 


Carlo adalah nama kesayangan St. Carolus. Pada masa kanak-kanaknya, ia mempunyai sifat pendiam dan kaku. Berbeda dengan Frederiko abangnya, yang selalu ramah dan terbuka. Tetapi dibalik sikap diamnya ini, ia mempunyai minat baca yang sangat mengesankan, pamannya yang seorang Kardinal sering mengirimi Carlo bacaan-bacaan mengenai dunia luas.
 

Kekhasan riwayat St. Carolus lebih merupakan suatu studi yang cermat dari karya-karya kegembalaannya dan terutama kenijaksanaannya yang luar biasa sebagai pemimpin dan semangatnya sebagai pembeharu. Terutama pada saat Gereja mengalami kemunduran dalam visi terhadap Allah, Gereja menjadi indah dalam bentuk luar, tetapi isi murni kafir dan kebanyakan umat kristiani ( bahkan kaum rohaniawan ) menggabungkan antara kebiasaan kafir murni dengan pernyataan iman kristiani.
 

St. Carolus cinta studi. Ia mampu meraih gelar sarjana dua bidang hokum dengan predikat cumlaude, disamping itu ia masih terus belajr untuk mengetahui hal-hal lain seperti filsafat dan teologi. Ia mampu membagi antara waktu bekerja dan belajar, baginya teologi harus dikuasai untuk menunjang tugasnya dan menjadikannya lebih cakap serta memadai untuk memenuhi tugasnya tersebut.

Dalam kesibukannya yang amat padat St. Carolus pun masih dapat memainkan alat musik selo dengan menciptakan keindahan dan kenikmatan yang luar biasa. Ia pun menjadi pembeharu musik yang berpengalaman. Kita sangat bersyukur berkat keisengannya dalam memanfaatkan istirahat ia mampu mengadakan pembaharuan musik. Selain itu ia berburu dan bermain catur merupakan waktu yang dipilih untuk mengisi liburan dan istirahatnya.
 

Frederiko, kakak dari St. Carolus meninggal tanggal 19 Nopember 1562 secara mendadak. St. Carolus mersa sangat kehilangan, namun ia sangat menyadari bahwa hal itu merupakan langkah besar untuk maju menuju jalan rahmat Allah. Setelah kematian kakaknya itu dan setelah ia menerima tahbisan suci, terjadi perubahan besar pada St. Carolus. Ia lebih banyak bermati raga, lebih saleh, lebih banyak berdoa, dan lebih memberikan keleluasaan. Dan banyak dibantu oleh Pater Ribiera pemimpin ordo Jesuit, St. Carolus dibimbing untuk semakin semangat menuju kekudusan hingga pada tanggal 17 Juli 1563 ia ditahbiskan menjadi Imam.
 

Berbagai peran penting St.Carolus dalam pemerintahan Gereja yaitu, menjadi pemimpin umum Gereja untuk menggalang persatuan serta kemurnian Gereja, menjadi pejabat tinggi pemerintah ( yang menyangkut semua urusan kepausan saran-saran, surat permohonan yang ditujukan kepada Paus dan lebih banyak menyangkut hokum Gereja ), menjadi Gubernur perwakilan kepausan dari berbagai daerah, menjadi penasehat pertahanan sipil dalam negeri Sri Paus, menjadi sekretaris negara pertama ( saat inilah kita patut berterima kasih karenaatas perjuangan dan kegigihannya untuk mengadakan konsili Trente sehingga terhindar dari pemecahbelahan dan pemisahan diri dari Roma ) dan menjadi Uskup Milan.
 

Tahun suci 1576 rakyat Milan menderita penyakit sampar. Disini St. Carolus dengan susah payah menahan lelah mencari tempat untuk menampung penderita sampar ini, tetapi yang ia terima hanya ejekan saja. Namun karena kegigihannya, ia mendapat bantuan materi, dan umat Milano juga berdoa secara khusuk, akhirnya wabah itu surut di akhir tahun 1577.
 

Saat-saat terakhir dari kehidupan St. Carolus dhiasi oleh kunjungan-kunjungan. Tanggal 22 Oktober 1584 demam menyerang St. Carolus, ia sempat bermati raga dan jadwal doanya tak pernah terlewati. Karena keadaan St. Carolus yang parah itu, Peter Ardono memberikan sakramen terakhir atas persetujuannya. Sekitar pukul delapan malam, hidup seorang yang kaya akan doa dan tenang, meninggalkan dunia fana ini tanggal 3 Nopember 1584. Jenazah St. Carolus dibaringkan di kapel samping Katedral Milano sampai tanggal 9 Nopember 1584.
 

St. Carolus menjadi teladan dalam mengabdi kepada Tuhan dan sesama yaitu “… yang mampu menghasilkan kerja adalah ketekunan, mulailah pekerjaan dan lanjutkanlah hingga tuntas”.
 
St. Carolus yang menjadi Santo pelindung kami semoga engkau memberikan inspirasi dan semangat dalam hidup kami terutama tugas-tugas kami sebagai pelajar dan pendidik.

(SUMBER : SMA ST CAROLUS)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar dibawah Ini :